TawaliNews.com, Metro – Warga Yosorejo dan sebagian Yosodadi yang masuk zona bersekolah di SMA Negeri I terancam tidak bisa melanjuti sekolahnya. Hal tersebut dikarenakan kuotanya sudah terpenuhi yang disinyalir warga dari luar Metro yang pindah domisili ke wilayah zona tersebut.

Warga mempertanyakan kriteria domisilai tersebut. Pasalnya, ketentuannya berdasarkan Kartu Keluarga asli dan KTP.

Karenanya, sejumlah warga mengeluhkan hal itu. Mereka diantaranya, Syamsul Hak tokoh masyarakat. Ia meminta warga Kota Metro harus diprioritaskan lebih dulu yang sesuai dengan zona. Hal yang sama dikeluhkan Syarifudin warga yang tinggal di RT 009 RW 003, Yosorejo, Metro Timur, yang anaknya gagal disekolah tersebut. Ia menilai SMA I tidak transparan dan tidak fair dalam penerimaan siswa tahun ajaran baru 2020-2021 dengan sistem zonasi. Dia menilai penerimaan siswa baru tersebut diduga menjalin kerja sama dengan pihak kelurahan terkait jual beli surat domisili dilingkungan Kelurahan Yosodadi, Kamis (18/6).

“Saya curiga SMA Negeri 1 Metro tidak fair dalam penerimaan calon siswa, pasalnya mayoritas calon siswa yang diterima rata rata hanya di kelurahan Yosodadi saja, sedangkan Kelurahan Yosorejo masuk dalam zonasi sekolah tersebut,” ucapnya.

Dikatakannya, untuk anaknya sudah memenuhi ketentuan zonasi jarak rumah hanya 500 meter. “Untuk ketentuan syarat zonasi, saya kira anak saya memenuhi syarat, jarak rumah hanya 500 meter dari SMA Negeri 1 Metro, riwayat pendidikan juga berasal dari Metro, SMPN 10 Metro dan selalu unggul dalam prestasi, sedangkan menurut data yang saya dapat banyak siswa yang diterima malah banyak dari sekolah asal Lampung Timur dan calon siswa banyak diluar zonasi,”paparnya

Hal yang serupa juga dialami Erland warga Yosorejo yang anaknya gagal masuk padahal mempunyai riwayat pendidikan prestasi di Metro.

“Saya heran dengan SMA Negeri 1 Metro, katanya sistem zonasi saya yang berjarak satu kilometer tidak masuk, padahal anak saya berprestasi, saya menduga ada yang janggal, karena teman anak saya yang tinggal di Tejosari masuk disitu dan datanya berubah jadi Yosodadi, saya curiga ada kerjasama sekolah dengan pihak kelurahan Yosodadi yaitu praktik jual-beli surat domisili,”tandasnya.

Sementara Lurah Yosodadi Fitri mengaku mengeluarkan domisili sesuai dengan pengajuan warga, yang sudah diketahui perpanjangan tangannya RT dan RW. “Jadi tidak ada rekayasa. Domisili itu tidak mendasar pada KK, hanya berdasarkan permohonan yang bersangkutan yang tinggal di Kelurahan tersebut. Itu hanya dibuktikan keterangan RT dan RW, jika terjadi pemalsuan bukan wewenang saya karena saya tidak mungkin bisa mengkaper warga. Dia mengagap wajar jika ia bertinggal di Yosodadi,”pangkasnya.

Dikatakannya, domisili itu pengganti KK. Domisili itu sudah membenarkan. Alasannya, diperkuat oleh pengakuan RT dan RW.(rls)

100
One thought on “Pembuatan domisili Di Kelurahan Yosodadi meningkat fantastik saat PPDB”
  1. Hi,

    Are you unhappy with your current hosting company? Slow speeds? Downtimes? Unskilled and/or unreactive support? Too high pricing? Or perhaps do you only want to examine different possibilities?

    Have a look at our offers : http://linkt.space/hcvxc

    Regards,

    Fabien

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *