Empat Lawang TN –
Terkait dengan penahanan dan penetapan tersangka bapak dan anak atas nama Rila Arpan Bin Ujang Zakaria Dan Komaria bin Rila Arpan dalam kasus pengeroyokan oleh Polres Empat Lawang, keluarga besar bapak Ujang Zakaria, mengundang sejumlah awak media, ketua RW 01, bapak Baharudin Dan Ketua RT 03 Bapak Sukri di rumahnya di kelurahan Tanjung Makmur kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang Sumatera Selatan pada Rabu 23 Juli 2021 pukul 14.00 WIB untuk menyampaikan hal-hal yang belum terungkap dalam kasus yang menimpa anak dan cucu kandung pak Ujang tersebut.

Seperti yang disampaikan keluarga Pak Ujang, Bapak Janu, kegiatan ini dilakukan karena merasa ada beberapa kejanggalan atas penetapan pasal 170 KUHPidana (pasal pengeroyokan) kepada anak dan cucu pak Ujang, sehinga dengan demikian dapat menjadi masukan bagi pihak Polres Empat Lawang dalam mengayomi masyarakat.

Lebih lanjut, Pak Ujang menyampaikan bahwa, “ peristiwa ini diawali ketika cucu Pak Ujang yang bernama Komaria bin Rila Arpan (saat ini tersanka.red) motornya nopol BG 6557 D dihentikan oleh polisi pada hari Sabtu tanggal 12 Juni 2021 sekitar Pukul 22.30 wib (malam minggu) di pos polisi Talang Gunung Kelurahan Jaya Loka Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Empat Lawang Sumatera Selatan. Saat diperiksa, cucu pak Ujang yang bernama Komaria bin Rila Arpan tidak membawa surat kelengkapan motor yang dikendarainya. Akibatnya motor tersebut diamankan di Mapolsek Tebing Tinggi. Ini peristiwa yang pertama “ Ujar Pak Ujang Zakaria

Selanjutnya istri dari Rila Arpan , Misro Aini menjelaskan lagi bahwa, “Kemudian keesokan harinya, Minggu, 12 Juni 2021 sekitar pukul 14.00 wib, cucu pak Ujang yang bernama Komaria bin Rila Arpan mendatangi mapolsek Tebing Tinggi untuk mengurus motornya dengan membawa STNK Asli motor tersebut. Namun di mapolsek bukannya motor yang didapat tetapi malah terjadi percekcokan antara Komaria bin Rila Arpan dengan polisi sehingga terjadi perkelahian dan komaria pulang ke rumahnya dengan hidung yang berdarah. Ini peristiwa yang kedua “ Ujar Misro Aini.

Menurut Pak Ujang, menjelaskan bahwa, “ Peristiwa yang ketiga adalah saat cucu pak Ujang yang bernama Komaria bin Rila Arpan bersama ayahnya, Rila Arpan bin Ujang Zakaria mendatangi mapolsek Tebing Tinggi pada Minggu sore, tangal 13 Juni 2021 sekitar pukul 16.30 Wib (Selepas Ashar) untuk mengurusi motor anaknya yang belum selesai di mapolsek Tebing Tinggi. Namun karena sudah masuk waktu magrib (pukul 18.00 wib) Bapak dan anak tersebut belum pulang ke rumah. Isteri Rila bin Arpan atau Ibu dari Komaria bin Arpan berusaha mencari tahu kemana keberadaan suami dan anaknya tersebut. Selesai mencari ke sana kemari, isteri Rila Bin Arpan mendapat informasi kalau suami dan anaknya telah di tahan di Mapolres Empat Lawang pada minggu tanggal 13 Juni 2021 (malam Senin)” Ujar pak Ujang Zakaria.

Selanjutnya Misro Aini Isteri Rila Arpan atau Ibu Komaria bin Arpan menjelaskan bahwa, “ Keesokan harinya, Senin tanggal 14 Juni 2021, mendatangi polres Empat Lawang untuk membesuk suami dan anaknya. Namun saat itu Saya tidak diizinkan untuk menjenguk dengan alasan yang bersangkutan sedang diperiksa.

Akhirnya Saya datang lagi pada hari selesa tanggal 15 Juni 2021 ke mapolres Empat Lawang untuk menjenguk suami dan anaknya. Pada pertemuan tersebut Saya diizinkan menjenguk suami dan anak Saya komar bin Arpan. Dan pada pertemuan tersebut kedua tersangka menceritakan kepada Saya bahwa selama dalam tahanan, mereka berdua dipukuli dan diperlakukan dengan tidak berperi kemanusiaan.” Ujar Misro Aini kepada para awak media.
Pada konfrensi pers tersebut Saudara Janu yang merupakan salah satu kerabat yang turut hadir dalam undangan menjelaskan bahwa, “ jika di analisa dan menyimak cerita dari kronologis kejadian tersebut, pihak keluarga mempertanyakan pasal yang disangkakan kepada bapak dan anak tersebut. Mereka bingung sebab, pasal yang dikenakan kepada mereka sesuai surat Perintah Penangkapan dan Surat Penetapan tersangka dari Polisi, yaitu pasal 170 KUHPidana. Atau pasal tentang pengeroyokan. Mereka bertanya siapa orang yang dikeroyok dan dimanakah kejadian pengeroyakan tersebut. Sebab dalam surat-surat penetapan tersangka dan surat penahanan tersangka tidak dijelaskan siapa korban dari pengeroyokan tersebut?. Kalau pengeroyokan terjadi mapolsek Tebing Tinggi, mustahil di mapolsek tebing tinggi yang notabene mapolsek kota tersebut hanya ada satu orang personil anggota polisi yang piket ? kemudian, pihak keluarga pak Ujang juga meragukan kalau anak dan cucunya melakukan pengeroyokan terhadap polisi di dalam kantor Polisi Sektor Tebing Tinggi. Mereka datang ke Mapolsek tersebut dengan satu niat ingin mengurusi motor cucunya yang ditangkap polisi. Karena itu pada kesempatan ini pihak keluarga memohon kepada Kapolres Empat Lawang Atau Kapolda Sumatera Selatan kiranya dapat mendudukan kasus tersebut sesuai fakta kejadiannya saja. Kami seluruh keluarga tidak berniat ingin mengintervensi hukum apalagi membenarkan yang salah dan yang salah kemudin dibuat menjadi benar. Selain itu juga Keluarga memohon kiranya anak dan cucunya mendapatkan perawatan medis selama menjalani masa tahanan ” Ujar Janu.

Lebih lanjut Janu menyampaikan kepada awak media yang hadir bahwa “Peristiwa ini sangat disayangkan, terlebih lagi Rila Arpan ini menjadi tulang punggung keluarga yang memikul beban untuk dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari pekerjannya sebagai seorang petani penyadap karet, sedangkan anak pertamanya Komaria bekerja menjadi anggota satpol PP untuk membantu adik-adiknya, Istri Rila Arpan sangatlah sedih untuk memikirkan kelangsungan hidupnya jika suami dan anak pertamanya terus ditahan” ujar janu.

Janu juga menambahkan bahwa “ Keluarga akan terus memperjuangkan agar Rila Arpan dan Komaria mendapat keadilan, ini dilakukan bertujuan agar semua orang taat hukum, menghormati proses hukum, tenang dan bijaksana dalam menyikapi masalah, hati-hati dalam melakukan tindakan , serta menunaikan hak dan kewajiban baik dari masyarakat maupun anggota kepolisan, jangan sampai mengabaikan hak-hak tahanan yang sudah diatur dalam undang-undang sebagaimana mustinya serta tetap mengedepankan azas praduga tak bersalah, karena perkara ini belum mendapatkan keputusan pengadilan yang sah.” Ujar Janu mengakhiri. (IM)

838

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *